Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

REVIEW FILM THE VERDICT

 

Sumber Foto : Pinterest 

Film ini menceritakan seseorang yang kecewa dengan hukum, dia bernama Raka, seorang petugas keamanan pengadilan yang awal nya pasrah pada realitas system hukum. Hidupnya hancur ketika istrinya, Nina yang sedang hamil dan berprofesi sebagai pengacara menjadi korban kekerasan brutal oleh seorang pemuda, Bernama Dika, anak dari konglomerat Sudiyan Bono. Dika bebas dari jerat hukum berkat keahlian pengacara bayaran Bernama Timo. Frustasi dengan sistem yang bisa di beli, pada akhirnya Raka mengambil tindakan nekat dengan menyandra jalannya persidangan.

Saat persidangan dimulaipun tanda-tanda ketidakadilan sudah mulai terlihat. Terlalu banyak argument yang di sampaikan tidak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Bukannya malah dapat keadilan, Raka merasa memang ia sedang di curangi, bukti bukti di manipulasi, bahkan saksi juga di bungkam, dan yang lebih parahnya, tuduhan malah balik menyerang Raka sebagai pelaku peganiayaan. Sudah jelas, hukum sangat tumpul, bukannya mendapatkan keadilan, Raka malah berbalik menjadi terdakwa, ternyata hukum sama sekali tidak dapat memberi keadilan atas kematian istrinya, Nina. Tanpa fikir panjang, Raka dengan yakin melakukan segala cara dan upaya agar keadilan bisa berdiri dengan tegak.


Di mana keadilan ?

Media benar-benar di bungkam, kenapa kasus sebesar itu tidak viral di mana mana? Apa sebenarnya yang terjadi? Apa benar semua sudah tertutup dengan uang dan kukuasaan? Raka benar, ia harus melakukan sesuatu yang besar jika ia mau hasil yang besar pula, sebab lawannya pun bukan orang orang biasa. Tidak ada pilihan lain, ia akan menyandra orang orang yang ada di dalam ruang sidang saat persidangan ke dua akan dimulai.

Jelas saja Raka tidak terima dengan kematian istrinya, Nina. Dan dengan mudahnya pengacara Timo, memutar balikkan keadaan, menjadikan Raka sebagai terdakwa. Dan ternyata benar, dalam kasus pidana, bahkan 99% bukti tidak cukup. Seperti adagium yang berbunyi gelijkheid van ieder voor de wet (semua orang sama di hadapan hukum) tapi kenapa tidak berlaku di Indonesia? Karna hukum di Indonesia itu is scherp naar en bot naar boven (tajam kebawah tumpul ke atas).

Yang pasti film ini sangat sarkas untuk menyindir hukum di Indonesia, sudah sangat jelas, bahwa orang orang yang beruang adalah orang yang berkuasa, sebab hukum patuh dan berlaku hanya untuk orang orang kalangan bawah, bukan untuk mereka yang punya banyak uang dan kekuasaan. Nyatanya, di Indonesia hukum dan keadilan bisa diperjualbelikan. Terbukti dalam kasus di film ini, bahkan tak sedikit terjadi di dunia nyata, kebenaran benar benar di bungkam dengan uang. Bahkan mereka berani berbuat kejahatan, bahkan membunuh, hanya untuk tau bagaimana rasanya hukum melindunginya, padahal sudah jelas perbuatan mereka salah, dan kenyataan pahit yang harus kita lihat adalah hukum benar benar melindungi mereka karna kekuasaan dan uang yang mereka milliki.

film ini, menggambarkan bahwa keadilan benar benar hilang, hukum tumpul, bahkan bisa diperjualbelikan. Hanya untuk mendapat keadilan saja, seseorang harus berjuang dan menghalalkan segala cara, padahal keadilan itu sendiri seharusnya sudah menjadi hal wajib yang di dapatkan oleh setiap orang, tapi Kembali ke kenyataan hukum yang ada di Indonesia, semua tumpul dan rusak.  

Sekarang siapa yang harus kita tuntut? Lalu pada siapa kita akan minta keadilan? Seolah-olah semua nya bodoh, semua tuli, semua bisu, rakyat kecil menjerit daan menangis hanya untuk meminta sebuah keadilan, tapi tidak satu orang pun di atas sana yang mampu bahkan hanya untuk sekedar bertanya, ada apa ? harus dengan apa hukum dan keadilan mampu di rasakan oleh orang yang tidak punya kuasa bahkan uang?

Untuk harapan kedepannya, semoga keadilan serta hukum di Indonesia berjalan sesuai dengan jalurnya, tidak akan nada lagi orang yang mau bahkan tega memperjual belikan keadilan.


 


Penulis : Septia Ramadhani, dan

               Panca Hidayatul Khotimah 

Editor: Tim Redaksi Pers Jurista